G a l e r i

Pelantikan Pengurus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Raker Pengurs di Air Terjun Sedudo Nganjuk

G a l e r i

Wisuda Penguus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Kajian Rutin bersama alumni HMI

G a l e r i

Audiensi Pengurus HMI bersama Bupati Kediri

G a l e r i

Aksi Peringatan Hari Pancasila di gedung DPRD Kota Kediri

G a l e r i

Training of Trainers (TOT) NDP HMI Cabang kediri

G a l e r i

Kongres PB HMI XII Depok

G a l e r i

KONFERCAB XXX HMI Cabang Kediri

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Keseriusan dalam menjalin hubungan

Hasil Kajian Komisariat Tarbiyah Oleh Kanda Bahruddin, M.Pd. (salah satu dosen STAIN Kediri); Keseriusan dalam menjalin hubungan pasti didambakan setiap pasangan. Melihat senyumnya, tawanya, dan sentuhannya menjadi sesuatu hal yang sulit dilupakan saat menjalin hubungan serius. Tapi sudah seriuskah pasangan kamu?
Menjalani hubungan yang serius demi menggapai masa depan yang baik membutuhkan kerjasama antara dua pihak, kamu dan dia. Jika hanya serius dari kamu saja, hubungan itu akan berantakan dan akhirnya kamu putus, bahkan ujung-ujungnya saling benci.
Ingin tahu seberapa serius teman kencan Anda untuk melanjutkan hubungan? Cara terbaik untuk mengetahuinya bukan bertanya langsung padanya. Sebab, mungkin tidak pantas karena Anda berdua belum benar-benar resmi pacaran. Namun ada beberapa cara mudah untuk mengenali tanda-tanda apakah dia benar-benar menginginkan hubungan asmara ini berlanjut ke arah lebih serius. Berikut 10 Cara Mengetahui Keseriusan Pasangan Anda:
  1. Kurang Kontak Fisik. Ini berlaku untuk pria maupun wanita. Kontak fisik seperti memegang tangan, lengan, bahkan melingkarkan tangan pada pinggang, bisa menjadi tanda dia benar-benar menaruh hati pada diri Anda. Sebaliknya, bila dia selalu menjaga jarak atau melipat tangan di depan dada dan menghindari kontak mata dengan Anda selama kencan, maka ini bisa dimaknai bahwa dia tidak punya perhatian, mungkin juga tidak serius pada masa depan hubungan.

  2. Dia Tidak Membuat Rencana Masa Depan. Jika setelah berhubungan cukup lama dan si dia tak kunjung membicarakan kelanjutan hubungan, bisa jadi ia belum mau serius. Ia masih ingin menjalani hubungan secara santai dan tanpa beban.

  3. Dia Tak Mengenalkan Keluarganya. Mengenalkan keluarga dekat, bagi pria adalah suatu langkah awal untuk mendekatkan pasangannya. Jika hal ini tak kunjung dilakukannya, bisa jadi ia belum ingin membawa hubungan ke arah yang lebih serius.

  4. Selalu Mengelak Diajak Ke Acara Keluarga. Saat ada acara keluarga, adalah hal wajar jika kamu sebagai kekasih mengajaknya untuk ikut serta. Apabila ia selalu mengelak dengan berbagai alasan dan itu terjadi berkali-kali, ini adalah tanda kalau ia belum ingin mendekatkan diri dengan keluarga kamu. Artinya dia belum ingin berbicara serius dengan keluarga kamu.

  5. Selalu Mengajak Bersenang-senang. Hubungan memang akan terasa sangat menyenangkan. Itu karena ia akan selalu ada untuk mengajak bersenang-senang. Hal ini seperti pisau bermata dua. Ia memang akan selalu menyenangkan karena tidak pernah membuat kamu dalam situasi yang serius terkait pembicaraan soal kelanjutan hubungan. Jadi, hati-hati terjebak dalam kesenangan yang dibuatnya.

  6. Menghindari Panggilan Telepon. Salah satu indikator si dia ingin serius dengan Anda ialah menghubungi Anda lewat telepon atau SMS setelah kencan. Terkadang, dia selalu mencari-cari alasan agar bisa mengontak Anda. Bila Anda berdua ada kecocokan, biasanya akan melakukan percakapan lewat saluran telepon yang seolah-olah tiada akhir. Tapi, bila ini tidak terjadi pada hubungan Anda -padahal Anda sudah berinisiatif untuk memulai komunikasi- mungkin dia bukan seorang pria yang tepat.

  7. Keluarga dan Teman-Teman. Apakah dia bersedia memperkenalkan Anda kepada keluarga dan teman-temannya. Jika teman kencan Anda menghindari hal ini, maka itu menandakan dia tidak benar-benar serius ingin menjadikan Anda sebagai pendamping hidupnya.

  8. Apakah Dia Mengkritik Anda Terus?. Salah satu tanda yang paling jelas bahwa dia tidak menyayangi Anda ialah bila dia selalu mengkritik Anda di setiap kesempatan. Bahkan, hal-hal kecil, seperti cara Anda berpakaian, rias wajah, jilbab, pilihan Anda tentang buku atau film, bisa dipermasalahkannya.

  9. Komunikasi Intens. Pasangan yang serius biasanya ditandai dengan adanya komunikasi intens. Tak hanya saat merasa butuh bantuannya, tapi juga ketika waktu luang. Pasangan yang serius cenderung akan berkomunikasi di setiap kesempatan.

  10. Ekspresi Cinta. Ungkapan cinta melalui kata-kata atau perbuatan bukan hanya miliki pasangan baru. Mereka yang sudah menjalin hubungan yang cukup lama juga membutuhkannya. Ini penting untuk menjaga hasrat dan keharmonisan asmara.

Islamisasi Ilmu

Oleh: Fakhor El-Faya'i
Kabid PU HMI Cabang Kediri 



Isalamisasi ilmu pengetahuan merupakan upaya menyusun kembali dua sumber ilmu pengetahuan, yaitu wahyu dan alam untuk menghindari kontradiksi di antara keduanya. Islamisasi Ilmu pengetahuan merupakan proses peralihan dari landasan sekuler menuju Islam, baik pada aspek ontologis, epistemologis maupun aksologis.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh para ilmuwan juga berbeda. Hal ini bisa dilihat pada gagasan al-faruqi dan al-attas. Ini dikarenakan pemahaman atau pemaknaan mereka yang berbeda mengenai hakikat Islamisasi ilmu pengetahuan. Akan tetapi, kita jangan sampai terjebak kepada perbedaan tersebut, karena mereka juga mempunyai dasar-dasar sendiri. Gagasan mereka tidak ada yang salah, semuanya dicetuskan dalam rangka mengatasi kemunduran ilmu pengetahuan yang dialami umat Islam saat ini



Ada 5 prinsip yang harus dijadikan landasan ketikan melakukan islamisasi ilmu yaitu; Ke-Esaan Allah atau Tauhid, Kesatuan alam semesta, Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup dan kesatuan umat manusia.

Pelecehan Agama di Layar Kaca

Oleh : NURUL KIPTIYAH, S.Pd


Bak jamur di musim hujan, bertebarannya tontonan di layar kaca semakin menyuguhkan cerita-cerita yang terkesan di paksakan. Indonesia memang terkenal sering latah dalam mendulang kesuksesan, apalagi di jagad hiburan. Lihat saja ! Setelah kemunculan “Ayat –Ayat Cinta” yang mendobrak kesuksesan yang gemilang dengan menyusul boomingnya novel Ayat-Ayat Cinta Kang Abik tersebut, mulai menyusul film-film berlatarkan Islam dan berkedok religi. Masih bagus jika kehadirannya dapat memberikan angin segar dan inspirasi masyarakat untuk lebih baik dalam arti pada sisi kehidupan religinya, tetapi kenyataannya tontonan tersebut justru memperburuk citra Islam sendiri.

Film “Mengaku Rosul” yang mengkisahkan tentang riwayat penganut ajaran sesat, misalnya. Terlihat sekali sutradara mengambil angle secara sepihak yaitu pada penyesatan dan perilaku penyimpang pengautnya tanpa memberikan pesan yang membangun di akhir ceritanya. Kemudian film “Perempuan Berkalung Sorban” yang baru saja dilounching sudah menuai kontroversi dari salah seorang tokoh ulama. Bahkan sebelum sang tokoh menonton sudah memberi fatwa larangan menonton film tersebut. Langkah sukses layar lebar tersebut ternyata diikuti olea stasiun televisi yang ikut menanyangkan tontonan religi berupa sinetron yang ditayangkan secara monoton ( full 1 minggu penuh).

Sebuah pertanyaan, sebenarnya tayangan sinteron religi tersebut merupakan pengagungan agama ataukah justru penistaan agama. Tetapi tujuan yang pasti tentunya mencari keuntungan dari tingginya rating dan selera pasar dengan memutarnya pada moment yang dianggap tepat. Pada saat Ramadhan misalnya.

Simak saja sinetron Muslimah yang tayang di sebuah stasiun swasta yang tayang sejak ramadhan hingga kini belum juga selesei. Dan tentunya sinetron-sinetron serupa di bulan ramadhan. Apalagi dengan jam tayang yang bersamaan dengan sholat magrib, jelas-jelas ini menggangu muslim yang hendak beribadah. Belum lagi muatan isinya yang selalu menampilkan kelemahan orang sholeh yang seharusnya bisa menjadi kuat dengan keimanannya. Tayangan mistik bertema hantu dan alam gaib yang dapat membuat orang menjadi sulit untuk rasional dan mengarah pada syirik. Belum selesei sinetron itu tayang telah ramai sinetron yang dikonsumsi masyarakat adalah Hareem, yang tampak diadaptasi dari sebuah kisah nyata.

Anggota FPKS DPR Mutamminul Ula meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera menghentikan tayangan sinetron Hareem yang nyata-nyata telah melecehkan ajaran agama Islam dan merusak citra Islam. Namun pihak Production Huose ternyata tidak juga menanggapi seruan dari KPI. Lebih parah lagi kehadiran agamawan ( baca:ustadz) diakhir cerita bukan mengajak penonton untuk cerdas dalam menilai cerita tersebut tetapi justru muncuk dengan kutipan –kutipan ayat yang dijadikan pendukung dan pembenar dari perspektif tertentu yang menjadi dasar cerita sinetron. Sebaliknya ayat-ayat yang mementahkan perspektif itu cenderung disimpan. Tetapi tidak semua sintron religi membawa cerita yang tidak berkualiats. Ada juga sinetron religi yang bermuatan dakwah, realistis dan tidak terlalu ekspresionis. Seperti Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan. Garapan sineas besar Dedy Mizwar tersebut membuat setting sinetron tidak di buat-buat dan pesan yang disampaikan begitu mengena. Bahkan sinetron ini mandapat apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Sayangnya sinetron ini tidak diproduksi panjang. Pengusaha PH dan produser lebih mengutamakan rating daripada kualitas, akibatnya penistaan agamapun tetap dianggap pengaungan agama hanya karena balutan cover, judul, lagu theme song dan kostum pemainnya..

Media kini diyakini telah menggeser paradigma manusia. Dalam hal ini media telah menjadi semacam comtemporary civil religion ( Bellah ; 1967) atau agama sipil komtemporer yang melibatkan bentuk-bentuk pemujaan baru lewat ritual-ritual menonton dan mengkonsumsi media. Persoalannya bukan rahasia lagi bahwa realitas yang dibawa oleh media adalah realitas yang berselimut kepentingan kapitalis indrustialis yang tak berujung pada akumulasi positif semata.

Budaya media dalam hal ini bekerja secara hegemoni untuk mendukung kepentingan para pemilik media. Media makin asyik mengejar kepentingan ekomoni dan cenderung mengesampingkan tanggungjawab sosialnya. KPI sebagai lembaga pemerintahpun tak kuasa dan tak punya gigi untuk menghadapi rezim televisi. Televisi dianggap telah menyebarkan pesan-pesan negatif yang kontroversi dengan kebaikan yang disyiarkan oleh agama. Ada sebuah langkah taktis untuk menempatkan media ( baca:TV) sebagai rival dengan institusi sosial bernama agama. Sehingga memposisikan agama secara vis a vis dengan media dikaitkan dengan polarisasi biner sekuler/amoral ( media) versus sacral/moral ( agama).

Seolah masyarakat lupa bahwa moral adalah tanggungjawab semua individu. Dan kondisi memprihatinkan anak-anak bangsa kita juga bukan hanya kesalahan yang hanya dapat ditimpakan pada media. Kurang proteksi dari lingkungan terutama adalah pendidikan agama akan menjadikan rentannya mental generasi terhadap virus-virus media. Dalam lingkup kecil masyarakat adalah keluarga. Arus informasi bertebaran di depan mata tanpa bisa dibendung. Jika kita berupaya sekuat tenaga untuk memproteksi diri dari arus informasi tersebut maka layaknya kita berusaha untuk tidak bernafas diantara udara yang tercemar. Maka semua akhirnya dikembalikan pada diri kita sendiri dalam hal ini adalah kita sebagai konsumen. Sebuah sikap bijaksana yang harus kita ambil sebagai sebuah konsekwensi bahwa kita hidup di Negara yang telah impotent dalam menyikapi dan menfilter arus budaya yang semakin permisif. Karena jika Negara kita mengharapkan adanya perbaikan mental anak-anak bangsa maka upaya membangun karakter ini haruslah dimulai dengan merubah paradigma masyarakat terutama dari blowup media. Tontonan sinetron-sinetron tersebut ( yang dapat merusak mental anak-anak) lebih banyak ditayangkan pada jam 19.00 malam, dimana pada saat itu anak-anak jelas masih terjaga, Sehingga sekarang ini anak-anaklah yang lebih banyak terkena dampak negative dari tontonan yang layak tersebut.

Di sinilah peran orang tua dalam menemani anak-anak melihat televisi dan dominasi orangtua terhadap remot control televisi di rumah diprlukan sebagai langkah awal melakukan proteksi terhadap anak-anak bangsa. Kesadaran individu akan melahirkan kesadaran sosial, artinya jika sinetron-sinetron tersebut hanya mengejar rating, hal itu sebenarnya adalah tergantung pada ketertarikan konsumennya terhadap tayangan tersebut. Jika penonton masih betah menonton dan maka PH akan memperpanjang ceritanya agar penonton penasaran, tetapi jika penonton telah bosan maka sinetron itu akan selesei dengan sendirinya. Disinilah sebenarnya keputusan tayang atau tidaknya sinema tersebut tergantung kita sebagai penonton.

Disisi lain peran institusi sosial yaitu agama agar dapat mencerna dan memaknai realitas media secara lebih cerdas. Bukan hanya menjudgetifikasi produk anak bangsa dan melonching fatwa-fatwa “haram” yang terkadang membingungkan umat. Budaya memang harus dilawan dengan budaya.

Agar langkah ini dapat menjadi bagian dakwah secara kultural dalam perbaikan mental umat hendaknya untuk para sineas muslim khususnya, agar berupaya menciptakan kreasi seninya yang dapat mengangkat nilai-nilai religi yang sarat pesan moral bukan hanya mengumbar ajaran agama untuk mempermanis sinema saja. Atau menggunakan cover agama sebagai kostum untuk memikat pasar.

( Penulis adalah salah satu akfitis FLP Blitar dan Alumi HMI Badko Jawa Timur)

Profesionalisme Pendidikan

Oleh : Zaim Muddin Arif

Dapat dimengerti bahwa semua negara di dunia pada saat ini dalam proses memasuki era globalisasi begitu pula Indonesia. Hal ini setidaknya ditandai oleh tiga indikator sekaligus dalam perikehidupan manusia di dunia yaitu semakin transparan, mengglobal, dan kompetitif.



Dalam era ini tidak mengenal adanya batas geografi antar negara, yang tak mampu lagi membendung distribusi informasi yang semakin beragam, baik jenis serta kualitasnya. Sehingga pagar-pagar budaya bangsa akan semakin merapuh dalam menangkal datangnya kultur-kultur bangsa lain. Oleh sebab itu diperlukan adanya daya selektivitas pada diri bangsa Indonesia terhadap masuknya budaya dari luar.

Era yang melanda bangsa Indonesia ini merupakan salah satu hegemoni dan pengaruh kekuasaan suatu negara atas bangsa lain yang bukan hanya pada aspek ekonomi, intelektual, sosial, budaya dan sains teknologi. Hal ini akan menumbuhkan nilai-nilai baru yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ataupun agama, sebagai contoh ini adalah merebaknya nilai pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Sehingga budaya yang seperti ini, akan mempengaruhi pada pola pikir, sikap dan perilaku atau gaya hidup yang akan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut di atas banyak melanda di kalangan anak, baik yang duduk di SD, SMP atau SMU bahkan banyak yang telah terkontaminasi melalui internet, televisi dan media masa lainnya. Pernyataan tersebut diperkuat lagi oleh Zakiyah Daradjat dalam bukunya yang mengungkapkan bahwa “ di antara ahli jiwa, ada yang berpendapat, bahwa anak remaja dan problemanya, tidak lain dari hasil akibat kemajuan zaman” . Hal ini dikarenakan anak masih mempunyai emosi yang meluap-luap dan tidak stabil. Perubahan-perubahan yang terjadi itu, meliputi segala segi kehidupan manusia, yaitu jasmani, rohani, pikiran, perasaan dan sosial . Oleh karena itu sebagai penerus bangsa, negara dan agama haruslah memiliki suatu fondasi yang kokoh agar dapat melawan dampak dari era globalisasi yang bersifat negatif dengan timbulnya suatu kesadaran selektivitas yang tinggi terhadap nilai-nilai yang masuk.

Pendidikan disamping merupakan kebutuhan manusia juga merupakan suatu kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anaknya, karena anak merupakan amanat yang diberikan oleh Allah untuk dipelihara dan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

HMI dan Perubahan Zaman

Oleh: Bang A. Nasir Siregar


Himpunan Mahasiswa Islam (selanjutnya ditulis HMI) didirikan di Yogyakarta tanggal 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 Masehi oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa tingkat satu Sekolah Tinggi Islam (STI).

Karenanya, HMI merupakan organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia yang aktif berjuang sejak kelahirannya hinga hari ini. Sebagai organisasi perjuangan HMI dituntut melakukan perubahan dan pembaruan sesuai dengan tuntutan zaman yang terus bergulir.



Di usianya yang sudah relatif “renta” ini, khususnya dalam konteks mutakhir, nampaknya belum terlihat perubahan mendasar yang dipelopori HMI, meski secara historis banyak hal yang sudah disumbangkan HMI untuk bangsa ini. Setidaknya berpartisipasi dalam pembentukan situasi, iklim dan pembinaan sumber daya manusia. Partisipasi dalam bentuk pemberian konsep-konsep dalam berbagai kehidupan serta bentuk pelaksanaannya. Hal ini berimplikasi atas lahirnya pembaruan dibidang politik, pendidikan, ekonomi, pemikiran dalam Islam dan di bidang kebudayaan Islam.[2] Realitas tersebut menunjukkan bahwa HMI—meminjam bahasa orang-orang asing—sebagai “the most powerful Muslim students”. Prestasi itu dicapai di antaranya karena ketidak terikatan HMI atas kelompok atau organisasi-organisasi kemasyarakatan serta organisasi politik lainnya (independen), baik secara etis maupun organisatoris.

Independensi ini seharusnya mempengaruhi karakter kader-kader HMI sebagai pembaru secara berkala dalam segala aspek kehidupan. Namun jika diperhatikan, terutama pasca reformasi, nampaknya HMI (tentu karena kader-kadernya) mengalami euforia, sehingga eksistensinya dilampaui oleh perubahan-perubahan yang “deras mengalir”. Gerakannya, baik dari segi intelektual dan eksistensinya dalam konteks real seolah tak mampu bersaing dengan lahirnya organisasi-organisasi non pemerintah (Non Government Organization) yang penuh dengan inovasi. Karenanya, perlu dilakukan diskusi ulang ditingkat internal organisasi sehingga perubahan itu bisa direspon secara positif.







Karakteristik-Karakteristik Perubahan



Untuk membantu mengantarkan pada pentingnya HMI membekali diri menghadapi perubahan itu, berikut saya review karakteristik-karakteristik change dalam perspektif Rhenald Kasali sehingga nantinya diharapkan menjadi landasan berpikir dalam rangka memahami perubahan-perubahan yang tak ayal selalu terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya terdapat 10 karakteristik change, yaitu:







(1) Change itu begitu misterius karena tak mudah dipegang.



(2) Change memerlukan change maker(s). Rata-rata pemimpin yang menciptakan perubahan tidak bekerja sendiri, tetapi ia memiliki keberanian yang luar biasa, bahkan sebagian besar pemimpin perubahan gugur di usia perjuangannya.



(3) Tak semua orang bisa diajak melihat perubahan. Sebagian besar orang malah hanya melihat memakai mata persepsi. Hanya mampu melihat realitas, tanpa mampu melihat masa depan. Maka persoalan besar perubahan adalah mengajak orang-orang melihat apa yang anda lihat dan memercayainya.



(4) Perubahan terjadi setiap saat, maka perubahan harus diciptakan setiap saat pula, bukan sekali-kali.



(5) Ada sisi keras ada sisi lembut dari perubahan. Sisi keras termasuk masalah uang dan teknologi, sedangkan sisi lembut menyangkut manusia dan organisasi.



(6) Perubahan membutuhkan waktu, biaya dan kekuatan. Untuk menaklukkan nya perlu kematangan berpikir, kepribadian yang teguh, konsep yang jelas dan sistematis, dilakukan secara bertahap, dan dukungan yang luas.



(7) Dibutuhkan upaya-upaya khusus untuk menyentuh nilai-nilai dasar organisasi (budaya korporat). Tanpa menyentuh nilai-nilai dasar, perubahan tidak akan mengubah prilaku dan kebiasaan-kebiasaan manusianya.



(8) Perubahan banyak diwarnai oleh mitos-mitos. Salah satunya adalah mitos bahwa perubahan akan selalu membawa kemajuan atau perbaikan instan. Seperti pasien yang sakit, perubahan berarti menelan pil pahit, atau bahkan amputasi yang artinya perlu pengorbanan.



(9) Perubahan menimbulkan ekspektasi, dan karenanya ekspektasi dapat menimbulkan getaran-getaran emosi dan harapan-harapan yang bisa menimbulkan kekecewaan-kekecewaan. Maka itu manajemen perubahan harus diimbangi dengan manajemen harapan agar para pengikut dan pendukung perubahan dapat terus membakar energi untuk terlibat dalam proses perubahan itu, kendati goals-nya meleset atau masih memerlukan waktu untuk dicapai.



(10) Perubahan selalu menakutkan dan menimbulkan kepanikan-kepanikan. Namun demikian dengan teknik-teknik dan perilaku yang baik, perubahan dapat dikelola menjadi sebuah pesta. Sebuah pesta menyenangkan dan hangat, dapat menimbulkan efek kebersamaan.







Rhenald Kasali melanjutkan, tentu saja memimpin perubahan memerlukan keberanian, termasuk keberanian menghadapi berbagai resiko. Menurutnya, terdapat beberapa hal yang dapat mengakibatkan perubahan tidak membawa hasil seperti yang diharapkan[5]:







(1) Kepemimpinan yang tidak cukup kuat. Kepemimpinan yang kuat tidak sama dengan kepemimpinan otoriter. Kepemimpinan yang kuat berarti kepemimpinan yang penuh wibawa karena bersih, ahli, dapat dipercaya dan jelas arahnya.



(2) Salah melihat reformasi. Reformasi sering hanya dianggap reorganisasi oleh para birokrat. Reorganisasi dinilai sekedar mengubah bentuk organisasi. Padahal tujuan perubahan adalah mengubah manusia, bukan hanya mengubah organisasi. Tanpa diikuti upaya mengubah kebiasaan manusianya, reorganisasi tak akan membawa perubahan apa-apa.



(3) Sabotase di tengah jalan.



(4) Komunikasi yang tidak begitu bagus.



(5) Masyarakat yang tidak cukup mendukung.



(6) Proses “Buy-In” tidak berjalan. Perubahan harus menjadi agenda seluruh komponen organisasi. Dan perubahan yang baik harus dirasa dimiliki oleh seluruh masyarakat dalam organisasi. Gagasannya boleh datang dari atas, tetapi gerakannya harus dirasa dimiliki oleh semua orang. Proses yang hanya dimiliki para pemimpin tidak akan pernah bertenaga dalam bergerak



Dalam konteks HMI, tentu saja perubahan itu tidak segera memberikan hasil, tetapi bagaimana caranya, begitu dikomunikasikan, kader-kader HMI segera menaruh harapan. Harapan itu positif, tapi bisa juga negatif. Seperti Obama yang menggambarkan bahwa masih ada harapan sembari menawarkan perubahan (hope and change) sehingga publik menaruh interest. Jadi, apabila menggunakan perspektif Rhenald Kasali di atas, tujuan perubahan adalah mengubah manusia, bukan sekedar mengubah organisasi. Tanpa diikuti upaya mengubah kebiasaan manusianya, reorganisasi tak akan membawa perubahan apa-apa. Untuk mengubah kebiasaan manusianya, dibutuhkan pemimpin berani dan mampu mempengaruhi yang lain untuk mencapai impian perubahan itu.







Kepemimpinan di HMI



Dalam konteks HMI diajarkan bahwa, di antara ragam tugas pemimpin adalah bekerja dengan tulus-ikhlas karena Allah s.w.t., berusaha mencontoh kepribadian Rasulullah s.a.w. dengan sikap siddiq, tabligh, amanah dan fatonah (STAF), mendidik anggota secara serius dan menyiapkan regenerasi, kasih sayang merata kepada seluruh anggota, merencanakan program secara tepat, menentukan tahapan strategi dan sumber dana, mengelola orang sesuai kemampuan masing-masing, membangun iklim saling percaya dan berbaik sangka, bersungguh-sungguh menyalakan cita-cita, mengukuhkan tekad serta membangkitkan harapan dalam tim. Secara sederhana, kita bisa membedakan antara pejabat, pemimpin dan manajer seperti tabel di bawah ini.





Beberapa Perbedaan antara Pejabat, Manajer dan Pemimpin



Pejabat



Manajer



Pemimpin



- Jabatan karir dalam pekerjaan



- Sandangan formal seseorang dalam institusi.



- Acuan kerja berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku.



- Pekerjaannya yang membuat keputusan dan kebijakan.



- Istilah ini sering digunakan dalam pemerintahan.



- Pekerjannya membangun lembaga formal.





- Jabatan fungsional.



- Think incrementally.



- Someone who is obeyed by people.



- Do the right things (follow the books/policy).



- Experienced, have skills of organisation, may have good technical knowledge.



- Use rational/formal methods/acuan pada fungsi manajemen.



- Istilah ini sering digunakan dalam bisnis.



- Melakukan kegiatan-kegiatan/proses produksi.









- Tampil karena pengakuan orang.



- Think radically.



- Someone who is naturally followed by people.



- Do the things right (intuition).



- Stand out by being different, seek outv the truth.



- May have no organizational skills, but his vision unites people behind him.



- May have no experience. But has bold, fresh and new ideas.



- Use passion and stirs emotion.







Ragam tugas tersebut mengandung fungsi-fungsi manajemen[6], seperti; planning, organising, actuating/directing dan controlling (POAC). Di tengah perubahan yang tak terduga terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh organisasi, yakni: (1) Organisasi harus berpikir strategis, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, (2) Organisasi harus menerjemahkan inputnya untuk strategi yang efektif guna menanggulangi lingkungannya yang telah berubah, (3) Organissai harus mengembangkan alasan yang diperlukan untuk meletakkan landasan bagi pemakaian dan pelaksanaan strateginya.[7]



Nah, kaitannya dengan fungsi pertama dari manajemen, seperti telah disebutkan di atas, HMI harus memiliki perencanaan strategis (strategic planning)[8] yang sederhana tapi efektif untuk membantu komponen organisasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Untuk menghasilkan perencanaan strategis tersebut dibutuhkan pemikiran strategis yang mengarah pada perspektif. “Pemikiran strategis organisasional adalah koordinasi pikiran-pikiran kreatif menjadi suatu perspektif bersama yang memungkinkan organisasi anda melangkah ke masa depan dengan suatu sikap untuk memenuhi kebutuhan semua pihak yang berkepentingan, tujuannya aalah untuk membantu mengeksploitasi tantangan-tantangan baik yang dapat diramalkan maupun yang tidak, di masa depan, bukan hanya mempersiapkan diri untuk satu kemungkinan di keesokan hari.”[9]



Apabila HMI tidak tidak mampu melakukan perencanaan visioner yang inovatif dan efektif seperti telah disampaikan di atas, maka HMI akan ketinggalan dibanding organisasi-organisasi lainnya. (Ingat, bahwa rata-rata pemimpin yang menciptakan perubahan tidak bekerja sendiri, tetapi ia memiliki keberanian yang luar biasa. Namun tanpa diikuti upaya mengubah kebiasaan manusianya, reorganisasi tak akan membawa perubahan apa-apa).







Tantangan Perubahan



Tujuan HMI adalah lima kualitas insan cita, yaitu; “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang di ridhai Allah s.w.t.” Puncak tujuan HMI ini adalah terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang di ridhai Allah s.w.t. Namun, jika melihat perkembangan dunia yang semakin “sempit” karena terjadinya “borderless” yang mengakibatkan munculnya “global village”, nampaknya HMI harus mempersiapkan perencanaan strategis yang mampu membaca gejala-gejala tersebut dengan terus berpegang pada nilai-nilai ilahiyah.



Globalisasi, begitulah perubahan itu disebut yang kelak menjadi ancaman bagi HMI. Selain dampak positif, adalah dampak negatifnya sebagai tantangan HMI, karena aspek negatifnya telah menyuburkan kehidupan keagamaan dengan hubungan antar negara yang melahirkan sekte-sekte militan dengan masing-masing pemahaman yang tak ayal menimbulkan konflik. Yang paling menghawatirkan adalah munculnya kembali kelompok-kelompok militan Islam yang mengarah pada aksi teror sebagaimana terjadi akhir-akhir ini. Apakah hal ini Islami dan di ridhai Allah s.w.t.? Hal ini harus direspon dan dicarikan solusinya oleh HMI.



Selain itu, dalam konteks ekonomi global, bagaimana HMI dapat bertahan di tengah kepungan kapitalisme neo-liberal yang mensyaratkan the survival of the fittest? Atau bahkan kembali ke zaman Hobbes, bahwa hidup ini adalah homo homini lupus. Dengan kondisi ini, HMI harus mempersiapkan resources nya sedemikian rupa, sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat. Wujudkanlah cita-cita “lima kualitas insan cita” itu!







Penutup



Akhirnya, dari beberapa hal yang telah diuraikan di atas, selain melakukan pemikiran strategis, perencanaan strategis dan manajemen yang strategis dalam menghadapi perubahan, adalah berpegang teguh kepada nilai-nilai ilahiyah seperti yang telah digariskan dalam al-Qur’an dan hadis sehingga kepemimpinan dengan perencanaan dan manajemen yang kita buat mengandung aspek-aspek perubahan yang adaptif sekaligus bernafaskan Islam. Wallahu a’lam bisshawab!

INTERNALISASI NILAI-NILAI PENGKADERAN DI HMI

(INTERNALISASI NILAI-NILAI PENGKADERAN DI HMI)

Disampaikan oleh M. Maghfury

dalam KONFERCAB HMI Cab. Kediri Tahun 2010 di Kediri



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Nahmaduhu wa Nastagfiruhu wa Naudzubillahi min sururi anfusina wa min sayyiati a’malina mayyahdi lahu fala mudzilallah wa man yudlil fala hadziallah Asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah lahaula wala kuaata ila billah.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, taufiq dan hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua. Teriring do’a semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan berkah, sehingga hati dan pikiran jernih kita selalu dibimbing petunjuk-Nya dalam mengambil setiap keputusan di forum yang mulia dan penting kali ini. Amiin.

Saudara-saudaraku sekalian yang kami hormati. Sembari melayangkan pandangan ke hadapan wajah-wajah kader-kader terbaik bangsa di mimbar ini, ijinkan terlebih dahulu kami mengambil sebuah pesan dalam Kitab Suci. Al-Qur’an mengamanatkan kepada kita, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS Al-Hujuraat : 13)

Sebagaimana pesan Qur’an diatas, kami pun berharap agar kader-kader HMI Cabang Kediri yang berkumpul di forum terhormat ini, telah saling berinteraksi, saling merajut tali persaudaraan, dan saling menyamakan persepsi serta visi guna menyongsong hari, HMI Cabang Kediri kedepan yang cemerlang.

Selanjutnya, barangkali sebagian besar di antara kita sudah cukup lelah setelah sekian hari bergulat dengan tanggung jawab masing-masing dalam organisasi. Namun demikian, kelelahan fisik kita nampaknya telah terobati ketika kita semua mengikuti tahapan pencalonan formatur HMI Cabang Kediri yang cukup strategis ini: Pemilihan Ketua Umum/Formateur. Dikatakan cukup strategis, karena figur Ketua Umum/Formateur HMI ini nanti yang akan memandu kita dalam merespon perubahan besar di HMI Cabang Kediri, dan juga dalam mempersiapkan kader-kader tangguh di kepengurusan tahun depan.

Kami pun sungguh terharu dan merasa mendapatkan kehormatan yang sangat tinggi ketika mendapatkan amanah dari kawan-kawan untuk tampil sebagai salah satu calon Ketua Umum/Formateur dalam forum yang mulia ini. Oleh karena mulianya forum ini, maka sebelum mengambil keputusan strategis bagi kepentingan HMI ke depan, kami, sekali lagi, berdo’a semoga dalam tahapan ini hati kita tetap merdeka dalam membimbing pikiran-pikiran cerdas kita.



A. Pendahuluan

1. latar belakang

MAHASISWA DAN PERUBAHAN, kalimat ini memang sudah sangat singkron dan sudah begitu melekat untuk disandingkan menjadi elemen kata yang tidak bisa di pisahkan, hal ini karena perubahan-perubahan di negara manapun di dunia telah dilakukan oleh insan yang bernama mahasiswa. Mahasiswa sebagai insan kampus yang masih idealis serta bersikap independen merupakan penentu kemajuan masa depan sebuah bangsa. Jadi, sangat pantaslah kalau mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa memikul tanggung jawab ini. Mahasiswa sering melakukan gerakan-gerakan ke arah perubahan untuk kemajuan bangsa serta keadilan bagi masyarakat2.

Begitu pula Kita sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam, yang sadar akan realitas sosial seharusnya lebih peka akan realitas tersebut. Kondisi HMI Cab. Kediri mengalami BANYAK KEMUNDURAN dalam satu periode ini, tentunya periode kedepan kita harus membuat desakan/dorongan yang merupakan agregat sosial dengan tahapan yang padu serta berkolaborasi untuk tujuan yang sama yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses membuat keputusan kebijakan, baik secara organisatoris maupun etis.

Kondisi HMI Cabang Kediri mengalami kemunduran yang sangat drastis, disbanding periode sebelum-sebelumnya. Penurunan tersebut pada bidang Intelektual, loyalitas berorganisasi, Keharmonisan kepengurusan internal Cabang, tingginya naluri politik yang tidak diakomodasi secara demokratis, kurang adanya kepedulian atas pengkaderan, supremasi AD/ART HMI yang kurang tegas dan lain sebagainya pertanyaanya, APAKAH KITA SEBAGAI KADER HMI, KHUSUSNYA HMI CABANG KEDIRI CUKUP DENGAN DIAM DAN TERMENUNG SAJA MELIHAT REALITAS SEPERTI ITU??????....................BUKAN SEPERTI ITU KADER YANG DIHARAPKAN HMI.

2. Rumusan Masalah

a. Apa yang menjadi pemicu penurunan Organisasi HMI Cab. Kediri??????....

b. Langkah Strategis apa yang harus kita lakukan sebagai anggota/ kader HMI Cab. Kediri????????....

B. Pembahasan

a. Kondisi obyektif HMI Cabang Kediri secara singkat

HMI CABANG dalam struktur kepemimpinan di HMI adalah dibawah PB HMI dan di atas HMI KOMISARIAT3 secara organisatoris, HMI Cabang sebagai pemegang kendali HMI komisariat yang nota bene “SEBAGAI UJUNG TOMBAK PENGKADERAN” kalaupuntoh kondisi HMI Cabang Kediri masih seperti ini APA KATA DUNIA??? lebih parah lagi APA KATA KOMISARIAT???

Kondisi secara obyektif4 HMI Cabang kediri dapat dibagi menjadi dua, yaitu kondisi Internal organisasi dan kondisi eksternal organisasi.

1. Kondisi Internal

Penurunan Intelektual.

Tidak membangun budaya semangat berorganisasi

Keringnya akan wawasan ke Islaman

Pengkaderan Formal saja, yang menjadi tolok ukur keberhasilan.

Loyalitas kepengurusan yng masih dipertanyakan

Dominasi naluri politik yang berlebihan.

Kepentingan Pribadi kader mengalahkan kepentingan bersama dalam berorganisasi.

Demensi religiusitas yang kurang di tekankan.

Tata administrasi yang tidak jelas.

Supremasi AD/ART yang kurang tegas.

Kurangnya pengkaderan non formal.

Tidak memediasi jiwa-jiwa INTERPRENEUR kader

Kurangnya pemahaman akan menegemen konflik, yang menganggap konflik adalah hal yang negative.5

2. Kondisi Eksternal

Kurang harmonisnya hubungan HMI Cabang Kediri dengan Birokrasi Pemerintahan kabupaten dan kota kediri.

Imet negatif HMI Cabang Kediri yang terexspos pada organisasi lain.

Hubungan dengan donatur organisasi, baik partisipan, Instansi, Pemerintahan, dan Juga KAHMI yang kurang baik.

Dalam Momen Pesta Demokrasi PB HMI, tidak dapat menjaga nama baik institusi HMI Cabang Kediri dengan baik. Akan tetapi terkalahkan oleh kepuasan Pribadi ansih.

Lebih mengedepankan sifat premordialisme ansih, yang menyuburkan kelompok-kelompok, sekte-sekte yang mengganggu keharmonisan organisasi.6

b. Perubahan secara langkah strategis yang harus dicapai

SKEMA KESELARASAN SOSIAL yang dibangun sedemikian jauh masih tergantung dalam RUANG VAKUM. Langkah berikutnya haruslah menyediakan suasana yang lebih luas. Keselarasan (Harmoni) sosial harus diletakkan dalam lingkungan. Ada dua Lingkungan. Pertama, lebih intuitif yakni lingkungan alam, yang kedua Kurang intuitif yakni Kesadaran.7

Baiklah, kami akan langsung ke inti persoalan tentang agenda-agenda strategis bagi upaya pembaharuan di tubuh HMI Cabang Kediri. Pada garis besarnya pokok pikiran ini terbagi ke dalam enam hal.

1. Peningkatan Visi Intelektual.

Upaya untuk membangkitkan kembali kekuatan intelektual dari kader-kader HMI hukumnya fardhu. HMI harus semakin menyadari bahwa dinamika intelektual dari organisasi-organisasi lain semakin berkembang, sementara sebaliknya justru HMI semakin meredup. HMI yang dulu senantiasa berada di garda depan dalam perkembangan wacana pemikiran, dituntut untuk melanjutkan prestasi sejarah tersebut.

Upaya untuk membangkitkan kembali kekuatan intelektual ini membutuhkan beberapa hal. Pertama, lingkungan yang kondusif, berupa kebijakan organisasi dan komitmen para pemimpin organisasi di berbagai tingkatan.8 Kedua, menyediakan ruang organisasi sebagai sarana bagi debat pemikiran, seperti jurnal ilmiah, tetapi harus diwujudkan sebagai ruang dialektika gagasan bagi kader-kader HMI Cabang Kediri. Ketiga, membentuk institusi penyangga berupa grub studi/study club, berikut pembimbing atau konsultannya. Grup studi terbatas ini juga merupakan lahan dan persemaian para intelektual baru di HMI Cabang Kediri. Karena penajaman kapasitas akademis intelektual itu dapat dilakukan dengan tiga hal, yakni membaca, menulis dan berdebat (diskusi). Sementara bentuk-bentuk praksis dari komitmen intelektual, yakni sikap-sikap respon harus ditajamkan dengan institusi penyangga yang bersifat advokasi. Kader-kader HMI harus semakin banyak dikenalkan dan disentuhkan dengan masalah-masalah kemasyarakatan, sehingga intelektual HMI bukan intelektual buku atau teori, tetapi juga diterjemahkan ke dalam upaya-upaya kongkrit di masyarakat.

Dengan demikian, perkembangan wacana pemikiran yang belakangan ini sangat intensif, minimal dapat diikuti oleh HMI Cabang Kediri. Bahkan kalau memungkinkan HMI Cabang Kediri justru harus mampu menjadi konduktor bagi orkestra perkembangan wacana-wacana baru, Karena dengan jalan ini, upaya untuk menyuarakan ide Progresif akan dapat diejawantahkan. Selain itu, ketajaman dan penguasaan wacana pemikiran itu dapat diterjemahkan menjadi kritis yang konstruktif.

2. Peningkatan Kualitas Perkaderan.

Perkaderan HMI Cabang Kediri di masa datang harus benar-benar berkualitas. Dalam bahasa yang cukup menggugah, yakni bagaimana kita senantiasa “MENGEMBANGKAN PERKADERAN, DAN MEMBANGUN PERADABAN.” Kualitas perkaderan itu sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk menjauhkan diri dari formalism perkaderan. Karena  perkaderan formalisme akan menggiring dinamika perkaderan HMI sekedar menjadi pertrainingan. Bagi HMI, sekedar pertrainingan adalah reduksi yang sangat berbahaya bagi totalitas perkaderan HMI yang sesungguhnya.

Perkaderan formal penting sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan administratif-struktural yang bersifat formal, serta kerangka-kerangka dasar yang harus dikembangkan lebih lanjut. Sementara perkaderan non-formal dan informal adalah medan yang lebih luas untuk proses penempaan kualitas kader-kader. Intelektualitas, profesionalitas, loyalitas, religiusitas dan integritas para kader diasah lebih tajam dalam perkaderan yang non-formal dan informal, seperti up-grading, follow up, diskusi, seminar, riset dan sebagainya.

Agenda lainnya adalah meningkatnya kuantitas dan kualitas pelaksanaan LK I, dan LK II, sehingga produk dari rekruitmen dapat terserap dan dikembangkan kualitasnya secara maksimal.

Dalam rangka peningkatan kualitas perkaderan (formal), maka pemahaman segenap pelaku training terhadap pedoman perkaderan perlu ditingkatkan. Selain itu, kualitas instruktur dan pengelola training wajib diperhatikan, misalnya dengan memperbanyak pelaksanaan Sekolah Pengelola Latihan dan Sekolah Instruktur.

3. Modernisasi Organisasi.

Upaya modernisasi organisasi harus menjadi perhatian yang serius. Dimensi-dimensinya bukan hanya semata struktural, tetapi juga kultural.

Beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian adalah: Pertama, mendorong keluarga besar pengurus HMI Cabang kediri untuk membangun dan meramaikan sekretariat. Dalam hal ini HMI Cabang kediri harus memainkan peran sebagai fasilitator dan motivator bagi HMI Koms. Lingkup Cabang Kediri. Kedua, menumbuhkan kultur dan semangat dalam organisasi. Ketiga, menguatkan kultur taat asas, dengan peningkatan pemahaman dan loyalitas pada aturan main atau mekanisme organisasi. Keempat, meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal. Selain forum-forum resmi organisasi, perlu diperbanyak forum-forum kecil yang bemanfaat. Kelima, dengan menerbitkan media komunikasi berupa buletin aktifitas. Ini penting bagi sosialisasi kebijakan-kebijakan organisasi secara lebih merata sekaligus bermanfaat untuk membangun kesamaan visi organisasi, baik berkaitan dengan persoalan-persoalan ekstern maupun intern organisasi.

4. Peningkatan Kualitas Keislaman.

Umumnya dalam dalam perbincangan-perbincangan umum tentang Islam apalagi dalam pembahasan bidang-bidang khusus seperti hukum dan pendidikan Islam, Indonesia sangat diabaikan, walaupun negeri ini negeri muslim yang paling banyak pendudukanya. Ini disebabkan adanya kesan umum bahwa Indonesia adalah kawasan umum yang berada “di luar arus pemikiran intelektual”. Namun di masa-masa akhir ini telah terjadi kegiatan intelektual Islam tingkat tinggi di Indonesia. Kebangkitan Nahdlotul Ulama’ dan Muhammadiyah kelompok konservatif dan progresif dalam Islam di Indonesia. Tetapi dengan tibanya masa kemerdekaan, mulailah tahap baru yang khusus dan sangat dinamis di Indonesia, tidak hanya dalam lapangan politik tetapi juga pendidikan Islam9.

HMI adalah diantara salah satu media pendidikan Islam, Komitmen HMI pada Islam sebagai ajaran dan umat Islam sebagai entitas musti benar-benar berupaya diwujudkan. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa hal yakni: Pertama, melanjutkan upaya pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Ini hanya mungkin apabila HMI membangkitkan kembali wacana-wacana keislaman. HMI harus semakin mampu memainkan perannya untuk memproduksi gagasan-gagasan baru tentang Islam yang rasional, modern dan inklusif. Kedua, dengan senantiasa memperjelas identitas empiris ditengah-tengah dunia kemahasiswaan. Hal ini penting untuk menangkis gejala yang mulai berkembang di beberapa kampus-kampus Kecenderungan itu muncul karena HMI dikesan sebagai kurang jelas identitas keislamannya. Ketiga, memperkuat ruh spiritualitas dalam dinamika organisasi untuk mengimbangi perkembangan rasionalitas yang kadangkala terlalu maju. Artinya, harus ditegaskan bahwa kualitas seorang kader, salah satunya, diukur dari dimensi-dimensi spiritualitasnya.

5. Penguatan Basis HMI di Kampus.

HMI dituntut untuk menterjemahkan komitmen kemahasiswaannya secara sungguh-sungguh. Dalam kerangka itu dibutuhkan reorientasi aktivitas yang diarah-orientasikan untuk mengakomodasi aspirasi, kepentingan, dan  kebutuhan mahasiswa. Hal ini penting bagi upaya memperkuat kembali basis HMI di kampus. Semangat HMI sebagai second campus akan terwujud apabila secara empiris, aktivitas-aktivitas HMI benar-benar bersifat bias di terima dengan dunia kampus.

Dalam rangka itu, maka komisariat sebagai ujung tombak HMI di kampus harus mendapatkan perhatian yang serius, sehingga kemampuannya untuk menjadi representasi HMI benar-benar mewujud. Komisariat harus mampu merumuskan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan kegiatan kampus yang akan menyentuhkan dinamika komisariat dan dinamika riil kehidupan kemahasiswaan.

Dalam rangka mendinamisir kehidupan kampus, maka HMI musti mendorong dan menyuarakan pentingnya kehadiran organisasi ekstra di kampus. Kehadiran organisasi ekstra sangat dibutuhkan untuk membangun dinamika kemahasiswaan yang sehat, sehingga akan lahir tokoh-tokoh mahasiswa. Setidaknya, tokoh mahasiswa harus mempunyai lima kualitas, yakni kedalaman ideologis, wawasan politis, kemampuan komunikasi sosial dan kemampuan membangun solidaritas sosial didalam realitas kampus yang majemuk.

6. Pengembangan Visi Kewirausahaan.

Bagi HMI, entrepreneurship termasuk orientasi baru, tetapi mesti mendapatkan perhatian perhatian yang sungguh-sungguh. Bukan saja karena merupakan salah satu terjemahan kongkrit dari semangat profesionalitas, tetapi juga akan memberikan kontribusi yang strategis bagi kepentingan umat dan bangsa di masa depan. Umat boleh kuat secara politik dan intelektual. Tetapi kalau secara ekonomi masih marginal, maka upaya kekuatan umat Islam akan mendapat hambatan yang sangat berarti. Untuk itu, sangat mendesak dilahirkannya generasi muda muslim yang bergerak menjadi entrepreneur. Orientasi pada kewirausahaan ini, pada jangka menengah akan mengarah pada pembentukan kelas menengah (middle  class) ekonomi, yang akan menjadi pilar bagi kekuatan ekonomi umat. Hal ini juga sekaligus akan memperkuat posisi ekonomi bangsa dalam dinamika internasional yang semakin kompetitif. Hal demikian, secara internal juga bermanfaat untuk mengurangi dominasi orientasi politik.

Penguatan visi kewirausahaan ini juga musti disambut dengan upaya-upya yang lebih kongkrit, seperti membuka akses kepada pelaku-pelaku ekonomi yang sudah mapan, akses modal, dan sebagainya.Tugas untuk itu tidak akan maksimal kalau hanya dilakukan secara personal, sehingga dibutuhkan upaya-upaya yang lebih sistematis secara institusional.

Dalam kaitan itu, maka KPP di HMI Cabang Kediri harus dikuatkan eksistensinya. Tetapi pengembangan KPP harus dilakukan dengan spesifikasi, sesuai dengan kondisi lokalitas. Sebuah Cabang HMI sebaiknya memilih satu jenis wira usaha yang paling mungkin dikembangkan.

Demikianlah usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai pengkaderan dalam HMI, yang merupakan terjemahan dan keyakinan dan visi bagi pengembangan HMI Cabang Kediri ke depan.