G a l e r i

Pelantikan Pengurus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Raker Pengurs di Air Terjun Sedudo Nganjuk

G a l e r i

Wisuda Penguus HMI Cabang Kediri periode 2011-2012

G a l e r i

Kajian Rutin bersama alumni HMI

G a l e r i

Audiensi Pengurus HMI bersama Bupati Kediri

G a l e r i

Aksi Peringatan Hari Pancasila di gedung DPRD Kota Kediri

G a l e r i

Training of Trainers (TOT) NDP HMI Cabang kediri

G a l e r i

Kongres PB HMI XII Depok

G a l e r i

KONFERCAB XXX HMI Cabang Kediri

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

HMI CABANG KEDIRI; SEBUAH CERMIN EVALUASI DAN PROYEKSI PERKADERAN HMI KE DEPAN

HMI Cabang kediri adalah salah satu cabang HMI tertua di Jawa Timur, yaitu diantara HMI Cabang Malang, Cabang Jember dan Cabang Madiun(telah tiada) Juga Cabang Surabaya begitu ungkap Pak KS. Haryanto (salah satu alumni generasi ke 2 HMI Cabang Kediri), 50 Tahun lebih cabang ini berdiri, hingga kini walaupun tumbuh tenggelam HMI cabang Kediri masih tetap eksis menjalankan proses kaderisasi dan proses regenerasi kepemimpinan, 50 tahun bukanlah usia yang muda lagi, usia yang sudah matang seharusnya, kematangan berpikir dari para kader-kader yang telah dicetaknya yang kini telah malang melintang di masyarakat luas.

HMI Cabang Kediri harus secepatnya berbenah diri dan tidak terlalu larut dalam ketidak pastian rutinitas kader-kader HMI selama ini. Kita Sebagai kader-kader HMI Cabang Kediri harus secepatnya menghembuskan angin segar dengan penuh visioner, menerobos belenggu-belenggu kebekuan dan kejumudan paradigma berfikir kader-kader HMI hari ini. Pragmatisme, hedonisme, dan cara berpikir instan harus cepat-cepat disingkirkan dari kader-kader HMI Cabang Kediri.

Dalam catatan ini, Saya mencoba feedback tentang pengalaman pada beberapa periode kepengurusan HMI Cabang Kediri, mulai dari kepengurusannya sdr. A. Fauzi, dimana secara dinamika intelektualitas dan dinamika organisasi di eksternal begitu kentara, masuknya sdr. A. Fauzi menjadi team perumus NDP dimataram yang kemudian disyahkan pada kongres di Makassar adalah sebagai wujud dinamika yang ada pada waktu itu. Kemudian pada masa periode sdr. M. Badrus zaman, dinamika internal ditata ulang karena pada masa sebelumnya mengalami beberapa kendala yang lumayan signifikan, perkaderan mulai di efektifkan dengan dibentuknya BPL, juga didirikannya LAPMI dan majalah AN-NATIQ yang pada waktu itu PIMRED- nya sdr. Ahlan EL-FAZ. Pada periode sdr Musta’id, dinamika internal mengalami chaos, ada dualisme kepemimpinan antara kepemimpinan sdr Musta’id dan sdr. Syaifudin zuhri, namun training-training baik formal maupun informal tetap berjalan yang diback up oleh BPL HMI Cabang Kediri yang pada waktu itu masih dipimpin oleh sdr. Ahlan EL-FAZ. Dan pada periode sdr. M. Magfuri, ada beberapa catatan antara lain, terkait permasalahan sekertariat yang terus berlarut-larut hingga belum ada solusinya, perombakan struktur kepengurusan yang tidak dilanjutkan dikarenakan ada perpecahan di tingkatan PBHMI.  Pada periode ini juga perkaderan berjalan lancar, training-training bisa berjalan baik ditataran cabang maupun komisariat.

Dalam kurun beberapa periode ini dalam pengamatan penulis, ada beberapa catatan hitam yang telah menjadi suatu tata nilai/tradisi yang hampir menenggelamkan proses kader-kader HMI dalam kancah Perkaderan HMI secara nasional, antara lain:

  1. Lemahnya bassic sistem kaderisasi yang ditanam oleh para kader-kader pendahulu.

  2. Lemahnya jaringan komunikasi antar kader-kader HMI Cabang Kediri dan para alumninya baik ditingkatan lokal, regional, hingga nasional.

  3. Belum adanya visi kaderisasi untuk HMI cabang kediri yang bersifat jangka panjang.

  4. Lemahnya pembangunan bassic intelektualisme dan profesionalisme pada kader-kader HMI Cabang Kediri selama ini.

  5. Kader-kader HMI Cabang Kediri dan alumninya sebagian besar berfikirnya pada wilayah lokal, sehingga menjadi penghambat untuk melahirkan kader-kader HMI yang memiliki jiwa kepemimpinan secara  nasional.

  6. Lemahnya trust (kepercayaan) dari publik pada Institusi HMI Cabang Kediri yang ditimbulkan dari kurangnya peran serta para kader HMI dalam memberikan pengaruhnya pada pembuatan kebijakan daerah yang dalam rangka untuk kesejahteraan masyarakat luas.

  7. Lemahnya sistem manajemen keuangan HMI Cabang Kediri, belum memiliki foundrishing yang tetap dan usaha mandiri untuk keberlangsungan nafas dan gerak organisasi.

  8. Masih ter-abaikan-nya beberapa komisariat, sehingga mengalami stagnasi perkaderan pada komisariat yang lagi mengalami masalah internal.

  9. Kurangnya perhatian pada perkembangan politik dunia kampus, sehingga belum bisa mewarnai dunia kampus secara makasimal.

Moment konfercab sudah seharusnya menjadi suatu moment evaluasi program jangka pendek juga jangka panjang, HMI sebagai organisasi perkaderan maka program disini adalah program kaderisasi yang telah dilakukan oleh satu kepengurusan dalam suatu kepemimpinan dan program-program yang akan dilakukan oleh suatu periode kepengurusan berikutnya. Dan yang harus dievaluasi juga program jangka panjang HMI Cabang Kediri selama ini, suatu visi jauh kedepan yang harus dilakukan oleh setiap kader HMI se-kediri dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridloi ALLOH SWT, dan pastinya harus di pimpin oleh kepemimpinan yang punya visi jauh kedepan, 20 hingga 50 tahun kedepan.

Oleh karena itu, dalam rangka KONFERCAB HMI CABANG KEDIRI KE XXIX, saya mencoba menyumbangkan beberapa gagasan untuk HMI CABANG KEDIRI kedepan, yaitu:

  1. Membangun bassic sistem perkaderan yang kokoh, menyiapkan SDM instruktur yang berkualitas dan memiliki integritas tinggi, menciptakan manajemen perkaderan yang rapi dan sistematis pada setiap jenjangnya.

  2. Membangun jejaring komunikasi yang kokoh antara kader-kader HMI dengan alumni HMI, baik secara formal maupun informal dalam batas sewajarnya. Sehingga tidak ada intervensi negatif didalmnya.

  3. Membangun visi perkaderan jangka pendek dan jangka panjang untuk kader-kader HMI Cabang Kediri 20-50 tahun kedepan.

  4. Menciptakan budaya intelektualisme dan profesionalitas dikalangan kader-kader HMI Cabang Kediri yang bernafaskan islam

  5. Me-revolusi mindsite kader-kader HMI yang hanya berfikir lokal menjadi berfikir nasional dan internasional, sehingga akan mampu menjadi pemimpin yang bertaraf nasional dan internasional.

  6. Membangun trust organisasi yang diawali dengan membangun character / mental para kader yang memiliki integritas tinggi.

  7. Menata kembali sistem keuangan HMI Cabang Kediri, sehingga organisasi ini mampu berjalan secara mandiri.

  8. Mengadakan konsolidasi internal pada komisariat-komisariat yang mengalami stagnasi perkaderannya, yang berakibat pada ketidak mampuanya untuk mengadakan regenerasi di komisariat.

  9. Menata ulang strategi untuk mewarnai kampus-kampus dilingkup HMI Cabang Kediri dan sekitarnya, dan terus mengadakan konsolidasi eksternal agar mampu memperbanyak peran untuk kader-kader HMI dikampus.

Itulah beberapa gagasan saya walau banyak kekurangan dalam catatan singkat ini, namun mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk perkaderan HMI CABANG KEDIRI tercinta, dan dalam tulisan ini saya mau berucap” selamat BERKONFERCAB KE XXIX, semoga mampu merumuskan visi jauh kedepan untuk HMI Cabang Kediri dan mampu memilih pemimpin yang amanah, dan memiliki integritas tinggi juga konsisten dalam perjuangan untuk mensyi’arkan agama islam”. AMIEN.

YAKIN USAHA SAMPAI,

AHLAN EL-FAZ

JAKARTA, 03 APRIL 2012

REFORMASI MENTALITAS KADER HMI (REFLEKSI MILAD HMI KE-65)

Oleh: BASHLUL HAZAMI  


Tulisan ini kiranya hanyalah ungkapan sederhana yang ingin penulis sampaikan dalam rangka memperingati milad HMI yang ke-65 sejak kelahirannya tanggal 5 Februari 1947 yang diprakarsai oleh Prof. Lafran Pane. Angka 65 tentu bukanlah angka yang kecil, artinya fluktuasi dinamika hingga puluhan tahun menjadi pengalaman tersendiri dalam keeksistensiannya menghadapi lika-liku perjalanan organisasi ini. Terangnya, semakin tua usia suatu organisasi semakin matang dan mantap pula kesiapan untuk menghadapi tantangan dan problematika yang semakin kompleks dewasa ini.
Terasa sangatlah kurang rasanya jika momen ini hanyalah digunakan sebagai formalitas kegiatan dan seremonial belaka. Menurut hemat penulis, milad ini haruslah menjadi momentum sakral, yakni sebagai momentum untuk refleksi bersama, berfikir sejenak memahami realitas faktual yang hinggap di tubuh HMI saat ini dengan tetap berekspektasi adanya kebangkitan dan perubahan signifikan dari organisasi ini. Refleksi ini adalah manifestasi rasa cinta kasih kepada organisasi yang turut andil dalam perjalanan hidup penulis yang kebetulan masih aktif menempa diri di HMI sebagai sikap optimis untuk turut menuangkan gagasan dalam membenahi organisasi ini secara bersama-sama. Refleksi ini haruslah dijadikan sebagai road map untuk menenggelamkan dan mengubur segala bentuk keterbelakangan dan kemunduran HMI yang hinggap saat ini menuju kemajuan dan kejayaan dalam menyongsong kehidupan yang lebih beradab dan bernilai.
Dalam konteks kehidupan yang bernilai, penulis melakukan pemilahan menjadi dua: Pertama, bernilai secara internal, yakni dinamika di dalam tubuh HMI haruslah menjadi piranti perkaderan, menjadi instrumen kesadaran bagi setiap anggota untuk menempa diri, membentuk karakter dan mentalitas kepribadian yang tangguh. Berani mengeksploitir diri untuk kebaikan pribadi dan anggota lainnya. Dan berhenti mengeksploitir diri karena penghambaan terhadap sesuatu yang nilainya lebih rendah, yakni karena pamrih dan menghilangkan unsur keikhlasan. Keikhlasan menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sebelum yakin usaha sampai untuk mewujudkan kemajuan dalam segala bidang, modal awal kader HMI dalam mengarungi segala bahtera dinamika dalam ber-HMI adalah bersyukur dan ikhlas di dalam berorganisasi. Sebagaimana bait awal yang ada di dalam lirik lagu Hymne HMI, Bersyukur dan Ikhlas, Himpunan Mahasiswa Islam, dan seterusnya, karya R.M. Akbar dari HMI Cabang Medan. Kedua, bernilai secara eksternal. Nilai ini merupakan kaidah yang tidak hanya menuntut kader HMI untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang lebih luas. Tetapi juga karena ini memanglah sudah menjadi kewajiban bagi kader HMI untuk menyebarkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam sendi-sendi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Inilah cita-cita kader HMI untuk menjadi kader umat dan kader bangsa.
Dibalik itu semua, keadaan di lapangan ternyata tidak serta merta selalu manis dan elok seperti yang diidam-idamkan. Dari dinamika yang ada, antara baik dan buruk, pujian dan hinaan, manis dan pahit, hingga maju dan mundur silih berganti mengisi relung perkaderan di dalam tubuh HMI.
Pasca reformasi dan memasuki post-modern, degradasi yang terjadi di dalam jasad HMI tidak dapat dipungkiri adanya. Hal ini diperkuat oleh fakta-fakta yang menunjukkan kemunduran dan kemelorotan HMI yang disampaikan secara jelas dan terang oleh Prof. DR. Agussalim Sitompul (2005) dalam buku 44 Indikator Kemunduran HMI. Penyelidikan dan pembacaan kritis mengenai realita faktual oleh sejarawan HMI ini, kiranya akan sangat tidak berguna dan mubazir manakala tidak ada tindak lanjut yang pasti dan langkah kongkrit oleh kader-kader HMI.
Selain itu, kader HMI yang semestinya menjadi contoh baik dan tauladan bagi masyarakat luas, kini malah melakukan perbuatan yang tidak etis. Hal ini terbukti sebagaimana kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum fungsionaris PB HMI terhadap anggota Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI berdasarkan pernyataan dari saudara Ahlan El- Faz (Anggota BPL PB/ teman korban) yang penulis temui 25 Desember 2011 kemarin. Ahlan mengatakan insiden pemukulan itu bermula ketika anggota BPL yang bertugas tidak meluluskan oknum tersebut dalam screening (penyaringan) calon peserta Advance Training (LK3) yang diselenggarakan oleh Pengurus HMI Badan Koordinasi (Badko) Jabodetabeka-Banten. Insiden ini sangatlah tidak pantas dilakukan oleh kader HMI, lebih-lebih yang melakukan tindakan yang tidak pantas ini adalah fungsionaris PB HMI yang notabene adalah sosok yang menjadi tauladan adik-adiknya, baik di kepengurusan Badko, Cabang, Korkom maupun di Komisariat. Selain itu ironisnya lagi oknum calon peserta LK3 itu mungkin tidak memahami bahwasanya tujuan diadakannya LK3 adalah untuk menelurkan kader-kader pemimpin yang mampu menerjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial.
Yang tidak kalah mengejutkan, seperti yang diwartakan berita online, Kompasiana 27 Januari 2012, Ketua Umum PB HMI menzinai kader Kohati. Ini adalah berita yang menyakitkan hati kader HMI, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979, Chumaidi Syarif Romas kepada penulis melalui short message service (sms). Hal ini tentu menimbulkan reaksi keras dari beberapa kalangan, baik dari anggota HMI maupun alumninya, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Masalah ini tentu bukanlah masalah biasa. Jangan sampai masalah ini berlangsung secara berlarut-larut yang sudah barang pasti akan menambah banyak daftar penyakit yang hinggap dan mencederai organisasi ini. Semua komponen yang peduli akan organisasi ini tentu berharap agar masalah ini cepat reda dan organisasi ini bisa eksis kembali ke dalam fungsinya sebagai organisasi perkaderan dan perannya sebagai organisasi perjuangan, yang memperjuangan kebenaran, keadilan dan kebaikan dalam sendi-sendi kehidupan.
Telisik lebih dalam atas permasalahan ini, penulis berpendapat bahwa penyebab terjadinya kemunduran di HMI sekarang ini adalah karena terjadi penempatan posisi yang kurang pas dalam struktur kepengurusannya, baik dari tataran PB sampai tingkatan komisariat.
Hal ini mengakibatkan mandulnya program kegiatan yang positif dari berbagai bidang. Terjadinya kontrak-kontrak politik dan sistem kepemimpinan transaksional dalam pemenangan calon ketua umum baik pada saat kongres, musda maupun konfercab disinyalir sebagai penyebab memudarnya konsep “The right man on the right place” dalam sebuah organisasi yang menginginkan output yang berkualitas. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (2010) dalam bukunya Teori, Perilaku, dan Budaya Organisasi: yang demikian itu adalah suatu bentuk konflik yang terjadi di dalam kelompok. Konflik ini biasa dikenal dengan konflik fungsional. Penyebab munculnya konflik ini adalah karena “task or goal incompatibility” atau karena adanya ketidakcocokan tugas atau tujuan yang harus dicapai.
Kesinambungan dan keterkaitan struktur kepengurusan terhadap berjalan atau tidaknya suatu organisasi merupakan suatu entitas yang mengharuskan adanya interaksi atau hubungan antara satu dengan lainnya. Hubungan antara satu dengan lainnya di dalam organisasi inilah yang disebut sebagai sistem. Sebagaimana pengertian sistem yang dikemukakan oleh J. H. R. Van De Poel: “… Systeem een verzameling elementen waartussen relaties bestaan” (Sistem-kumpulan elemen yang saling berinteraksi satu sama lainnya) (J. Winardi, 2004).
Apabila ditarik ke dalam HMI, sistem merupakan sebuah kesatuan dengan sejumlah komponen yang saling berinterelasi antara pengurus dengan pengurus yang lain, atau antara pengurus dengan anggota dimana perimbangan dan koordinasinya merupakan kunci bagi upaya memaksimalisasi kinerja pengurus dan mengoptimalisasi efisiensi secara keseluruhan dalam mewujudkan tujuan HMI.
Setelah memahami kondisi kekinian di HMI, tugas selanjutnya adalah keharusan mengadakan pembenahan yang sitematis mulai dari sekarang agar kedepannya HMI tidak semakin terjebak dan tertidur pulas dalam kubangan lumpur. Manakala ini tidak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin HMI akan semakin tenggelam dan terpelosok ke jurang keterbelakangan.
Singkatnya, mentalitas kader HMI sekarang harus ditata ulang dan diformulasikan kembali. Pola pikir yang terlalu mengagungkan materi dan duniawi an sich harus diubah menjadi paradigma yang mengedepankan terbentuknya kepribadian yang tangguh dan responsif terhadap dinamika perubahan sosial yang ada serta profesional dalam mengemban amanah untuk muwujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Sebagai penutup, semoga peringatan milad ini menggugah kita semua untuk berikhtiyar mewujudkan kedinamisan dan memunculkan kembali masterpiece (adikarya) baru yang lahir dari rahim HMI sebagaimana prestasi-prestasi yang ditorehkan abang-abang kita dahulu sejak HMI dilahirkan. Jayalah dan Dirgahayu Himpunan Mahasiswa Islam. Bahagia HMI! 


Penulis adalah Aktivis HMI Cabang Kediri/ Mahasiswa Ekonomi Islam STAIN Kediri

Kepemimpinan Muhammad Yang Terlupakan

Oleh: Maftuh Tsaquef Puja Kema

 Kabid PPD HMI Cabang Kediri



Setidaknya dari cuplikan ayat wahyu suci diatas, dapat dipahami dan dijadikan renungan bagi umat manusia akan peran dan posisinya, yang tidak lain dan tidak bukan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi fana’ ini. “Kepemimpinan sirkus” kiranya marupakan term yang tepat untuk sekadar menggambarkan pola kepemimpinan yang ada di negeri Indonesia tercinta. Banyak potret negatif dari pemimpin nasional maupun lokal, pemuka agama, praktisi pendidikan, militer, aparatur penegak hukum, ketua organisasi dan pucuk-pucuk pimpinan lainnya yang tidak menjalankan tugas yang diberikan, bahkan cenderung menyimpang bahkan menyalah gunakan amanat yang diberikan. Sosok pemimpin-pemimpin yang dinanti-nantikan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik (kemaslahatan), yang seharusnya dijadikan thuladha (suri tauladan) bagi khalayak awam (yang dipimpin) namun mereka bertingkah polah yang kurang patut untuk ditiru, sebagian dari mereka memakan uang (hak) rakyat, melakukan tindakan amoral layaknya hidup tanpa aturan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang seharusnya benar, dan kebanyakan dari pemimpin kita hanya menuhankan uang semata, dengan prinsip “Ke-Uangan Yang Maha Esa”yang dikultuskan, yang sangat jauh dan tercerabut dari nilai-nilai relegiusitas nalar Islam.

 
Dalam ikhtisar ini kiranya perlu diuraikan sekelumit tentang apa dan siapa sebenarnya pemimpin dan kepemimpinan. Menurut K. Permadi dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan Dalam Manajemen (1996), secara etimologis  pemimpin dan kemimpinan berasal dari kata pimpin, maka dengan konjungsi berubah menjadi Pemimpin (leader) dan Kempemimpinan (leadership). Dalam bahasa Indonesia pemimpin sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengutus, penggerak, ketua, kepala, penuntut, raja, tua-tua dan sebagainya. Menurut Dr. Moekijat seorang pemimpin adalah seseorang yang berhasil menimbulkan perasaan ikut serta, perasaan ikut bertanggung jawab kepada orang-orang bawahannya, terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan dibawah pimpinannya. Sedangkan kepemimpinan adalah seni (kemampuan) mempengaruhi aktivitas orang lain melalui komunikasi, baik individual maupun kelompok ke arah pencapaian tujuan. Setiap kepemimpinan selalu menggunakan power atau kekuatan, kekuatan yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain.
Gramsci (1976) mengungkapkan; “Pemimpin akan dapat memerintah dengan efektif, jika jalan yang dipilihnya adalah hegemoni, yaitu dengan cara meminimalisir resistensi pengikut atau bawahan, bersamaan dengan itu  berbagai institusi yang ada dalam masyarakat menciptakan ketaatan yang spontan dari pengikut atau bawahan”. Jadi hegemoni pada hakekatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar itu menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan. Sebagai mahasiswa (khususnya yang berproses di STAIN Kediri) sudah sepantasnya memahami dan menjalankan peran dan fungsinya sekaligus berproses dalam menyemai peradaban dan mewujud menjadi “pemimpin-pemimpin muda” dengan pola kepemimpinan ideal dalam sekup kampus dan masyarakat di masa sekarang dan era kemudian.
Dalam pandangan Islam, setidaknya pemimpin harus mempunyai sifat; Adil dalam menjalankan fungsi kepemimpinan (QS. An-Nahl : 90), menjadi teladan bagi pengikut (QS. Al-Ahzab : 21), menjadi teladan bagi pengikut (QS. Al-Ahzab : 21), Jujur (QS. Al-Ahzab : 70-71), bertanggungjawab, ....setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban....(HR. Bukhari), berilmu pengetahuan (Al-’Alaq : 1-5), memiliki rasa kasih sayang (QS. Ali Imran :159), bersifat sabar (QS. Al-Baqarah : 153), bersifat optimis (QS. Yusuf : 87), mampu memotivasi (QS. Al-Anbiya’ : 73) dan referensi dalil naqli yang termaktub dalam Al-Quran dan al-Hadits.
Dus, manusia sebagai khalifah di muka bumi sudah sepatutnya mengikuti, memperpegangi dan kemudian bertindak atau berbuat selaras dengan jejak langkah kepemimpinan ideal yang ditorehkan oleh pemimpin abadi (pemimpin agama dan negara) yakni Rasulullah Muhammad SAW yang siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Kecenderungan Mahasiswa Sekarang

Kini para mahasiswa telah demikian menyenangi program MTV ketimbang ketoprak, lebih doyan makan KFC dan Mc Donald, daripada makan SGPC (sego pecel), merasa lebih gaul jika bergaya layaknya fashion show, menenteng handphone dengan model terbaru, dan menghabiskan malam dengan nongkrong di kafe atau shoping di mall.


Fakta ini bisa ditafsirkan sebagai wujud sebuah generasi yang telah menjauhi nilai-nilai kultural dan etik tradisional yang luhur dari bangsa Indonesia. Katanya para kritikus kebudayaan, dalam kajian culture studies, penyebab pergeseran kebudayaan ini adalah akibat dari “globalisasi” sebagai sebuah gerakan budaya, yang telah meruntuhkan totalitas, kesatuan nilai dan kepercayaan tradisional.


Generasi muda yang kehidupan sosialnya telah dibesarkan oleh radio, TV, dan ikon-ikon dari budaya massa. Para pengusaha yang hanya berfikir bagaimana meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya—dan melupakan pertimbangan kajian kebudayaan yang mendalam—akan berpikir praktis bagaimana menciptakan “tempat” pertemuan dan penyaluran life style kalangan muda (youth marketing). Tempat hiburan, makan-minum, toko pakaian, café, tempat kumpul-kumpul dengan penampilan menarik adalah pilihan yang paling menjanjikan. Mahasiswa dan kaum muda lainnya memang kian tumbuh menjadi pasar yang menggiurkan.


Jika anda berkunjung sesekali kebeberapa mall, para mahasiswa dan pelajarlah yang dominan datang ke mall. Sebagian besar dari mereka menggunakan busana yang modis : celana jeans atau celana yang potongannya nempel di pinggul, dibalut kaus ketat (baby shirt) yang sedikit menampakkan pusarnya, serta sepatu/sandal gaul. Sangat jelas bahwa anak muda ini adalah “target pasar” pasar utama.



Inilah proyek besar “komodifikasi” gaya hidup, atau menjadikan gaya hidup sebagai “komoditas” yang diperdagangkan, yang jelas-jelas korbannya adalah para mahasiswa. Meskipun seringkali mereka tidak menyadarinya. Proyek komodikasi gaya hidup kaum muda adalah strategi kebudayaan yang paling ampuh untuk menghancurkan kepribadian manusia-manusia muda ini yang masih dalam proses pembentukan dan pencarian identitas, baik menyangkut masalah nilai, identitas diri, harapan maupun masa depannya.



Jika sebelumnya kita telah sedikit mengutarakan bagaimana perubahan budaya yang terjadi di kalangan mahasiswa masa kini. Dan kita akan mengatakan tidaklah tepat bagi HMI di zaman ini untuk merebut kembali posisi menjadikan “masjid kampus” sebagai basis gerakan. Bukan karena masjid kampus itu tempat yang tidak mulia lagi—selain disebabkan kompetitor yang lebih banyak (HTI, Salafi, ataupun KAMMI)—tapi karena kecenderungan baru dalam kebudayaan mahasiswa. Apa pasal ?



Sekarang ini yang dijadikan masjid bagi mahasiswa adalah mall, café, dan tempat nongkrong lainnya. Sehingga, HMI merasa jauh lebih baik jika mengambil tanggungjawab dakwah kepada mahasiswa yang telah terkena imbas budaya global ini. Memilih target generasi “muslim tanpa masjid” tak berarti meninggalkan masjid, justru ingin mengembalikan kegandrungan mahasiswa kepada kemendasaran masjid sebagai sentral gerakan di dalam dunia Islam.





TKI dan Kekerasannya

Keadaan bangsa yang akhir-akhir ini menuai banyak sekali problema baik dari segi politis maupun ekonomis setidaknya kita harus memberikan solusi praktis dengan keadaan ini sebagai bangsa yang mempunyai sumber daya alam yang sangat tinggi kita melihat bahwa hasil ini tidak digunakan sebagaimana mestinya beberapa rakyat sendiri mengalami pergeseran pasar dengan orang asing begitupula politik yang diwarnai dengan korupsi yang sudah mendarah daging di para kaum birokrat imbasnya bangsa ini selalu stagnan dan tidak ada perubahan
Apakah Tidak malu jika negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan budayanya ini akan menjadi bahan lelucon orang asing dan lama-lama akan terkikis oleh pihak asing kalau ini terjadi tidak mungkin bangsa ini akan selalu menjadi jongos para orang asing, sosok pahlawan tenaga kerja Indonesia yang memberikan sumbangsih tinggi pada negeri harus rela mengalami penderitaan yang sangat berat sampai harus mengorbankan nyawa demi mencari kehidupan yang layak kenapa mereka lebih diterima di luar sana sedangkan didalam negeri sendiri tidak??apakah memang tenaga kita dikirim disana untuk dianiaya??jika pemerintah mampu memberikan peluang kerja, hal yang sering terjadi terhadap rakyat kita pasti tidak seperti ini.!nasi sudah menjadi bubur itulah yang diungkapkan jika setelah tenaga kita menjadi korban kekerasan oleh majikannya tersebut tanpa ada tindakan.!
Kita tidak pernah berfikir kenapa tidak orang asing disana yang menjadi tenaga kerja di negeri kita?coba kita lihat apa kendalanya?”Korupsi masih ada dan Ekonomi sangat susah” tidak mudah merubah tradisi yang menjadi warisan bangsa sedikit mengungkap pada perjuangan mahasiswa pada era reformasi dulu mempunyai visi untuk perubahan!bukan hanya pemerintahannya yang mengalami perubahan dan berjalan kedepan.

Optimis dan yakin bahwa kita mampu dengan didorong usaha-usaha.!rakyat kecil tidak mungkin dapat merubah bangsa ini lebih baik kecuali mereka yang duduk di pemerintahan karena tidak ada kekuasaan untuk itu.!jika dimungkinkan bagi rakyat kecil untuk merubah bangsa ini haruslah diimbangi dengan intelektual yang tinggi sedangkan mereka tidak punya itu dan hanya bergantung kepada pemerintahan yang menjadi wakinya. (Penulis adalah kader HMI Cabang Kediri)



GAJI PRESIDEN RI

Oleh M Fadjroel Rachman



Kemenangan moral tertinggi seorang pemimpin adalah pengabdian tanpa pamrih. Pemimpin inspiratif dan dihormati, juga tanpa pamrih, oleh publik karena tebalnya kesetiaan kepada nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan.



Pengabdian dengan pamrih material, apalagi hanya untuk menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri, menjadikan pengabdian tersebut tak bernilai apa-apa, sebuah kekuasaan tanpa keluruhan. Nah, apa yang bisa dikatakan kepada seorang presiden yang mengeluh kepada publik bahwa gajinya tidak naik-naik selama tujuh tahun di tengah lautan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang diderita rakyatnya? Di tengah jutaan rakyat yang bahkan tidak tahu apa yang harus dimakan hari ini, apalagi jika ditanya bagaimana pendidikan, kesehatan, perumahan, ataupun pekerjaannya.



Pamrih material? Perlukah diungkapkan seorang presiden, seorang pemimpin tertinggi, pengabdi tertinggi publik. Bukankah jika tahu jabatan presiden bukan jabatan yang bisa membuat seseorang kaya raya, lebih baik tidak dipilih sejak awal. Gaji presiden memang tak besar jika dibandingkan gaji Gubernur BI yang Rp 265 juta per bulan. Namun, presiden bukan saja mendapatkan gaji, melainkan juga dana taktis serta memiliki kekayaan pribadi yang dilaporkan cukup signifikan. Gaji presiden yang diungkapkan Kementerian Keuangan (2005) total Rp 62.740.000, terdiri atas gaji pokok Rp 30.240.000 dan tunjangan jabatan Rp 32.500.000. Namun, perlu dicatat, dana operasional atau taktis untuk presiden Rp 2 miliar per bulan.

Selain itu, kekayaan pribadi Presiden Yudhoyono juga sangat signifikan dan meningkat sangat signifikan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi periode 14 Mei 2009-23 November 2009, terdapat kenaikan Rp 5 miliar dari Rp 6.848.049.611 dan 246.389 dollar AS ke Rp 7.616.270.204 dan 269.730 dollar AS atau total dalam rupiah senilai Rp 10.178.705.204.



Kemiskinan dan ketimpangan



Apabila prestasi pemimpin diukur dari kemampuan menciptakan keadilan, kesejahteraan, dan berpihak kepada kemanusiaan, patutlah dipertimbangkan ukuran keadilan ataupun kesejahteraan berikut. Kemiskinan dan ketimpangan (sosial, kota-desa, daerah) adalah musuh utama Republik Indonesia apabila cita-cita para bapak dan ibu bangsa untuk membentuk negara kesejahteraan (welfare state), ”negara yang aktif mengelola dan mengorganisasi perekonomian, termasuk bertanggung jawab menjamin tersedianya pelayanan kesejahteraan dasar bagi warga negara” sebagai ukurannya. Kemiskinan, misalnya, kita ambil saja ukuran kemiskinan BPS (2010) pada perhitungan Maret 2010, garis kemiskinan (kota dan desa) adalah Rp 211.000 per bulan per orang, berdasarkan tingkat kebutuhan makanan dan nonmakanan, garis kemiskinan untuk desa Rp 192,354 dan kota Rp 232,938 per bulan per orang.



Nah, dengan angka standar kemiskinan (kota dan desa) Rp 211.000, ada 31,02 juta orang atau 13,33 persen (BPS, Maret 2010). Namun, jika garis kemiskinan dinaikkan menjadi pengeluaran 2 dollar AS per hari (standar Bank Dunia untuk kategori miskin; untuk kategori sangat miskin 1 dollar AS per hari), orang miskin sekitar 52 persen dari 234,2 juta populasi (2010) atau sekitar 121,7 juta orang. Apabila gaji Presiden—pemimpin para kaum miskin dan papa itu—pada 2010 dibandingkan pengeluaran per bulan 31,02 juta penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, hasilnya 297 kali pengeluaran penduduk miskin Indonesia. Ketimpangan sosial juga tak kunjung terjembatani. Lihat laporan BPS (Income Distribution by Classification World Bank BPS 2002-2006). Untuk 20 persen pendapatan tertinggi rata-rata meraih 42 persen kue nasional (42,07 persen pada 2004;44,78 persen pada 2005), sedangkan untuk 40 persen pendapatan terendah rata-rata meraih 20 persen kue nasional (20,80 persen 2004; 18,81 persen 2005).



Ketimpangan antardaerah juga hantu yang siap meledak dan merobohkan tatanan Republik. Laporan BPS 2010 memperlihatkan, dari 10 provinsi termiskin (1. Papua Barat; 2. Papua; 3. Maluku; 4. Sulawesi Barat; 5. NTT; 6. NTB; 7. Aceh; 8. Bangka Belitung; 9. Gorontalo; 10. Sumatera Selatan), tampak Papua Barat, Papua, dan Aceh adalah provinsi sangat kaya sumber daya alam, tetapi hasilnya tak kunjung menyejahterakan mereka. Ironisnya, di Papua Barat dan Papua terdapat perusahaan multinasional PT Freeport Mc Moran di tambang tembaga terbesar di dunia, juga emas. Tidak saja Papua Barat dan Papua yang dimiskinkan, tetapi kepemilikan saham pemerintah pun cuma 9,23 persen, selebihnya milik Freeport.



Menurut majalah The Economist (2010) yang membandingkan gaji pemimpin negara di dunia dengan PDB per kapita penduduknya, ternyata gaji SBY lebih dari 27 kali lipat PDB per kapita penduduk Indonesia. Jika dihitung dengan gaji Rp 62.740.000 atau per tahun Rp 752.880.000 terhadap PDB per kapita Rp 24.261.805 (BPS 2009), lebih dari 31 kali lipat.



Presiden tanpa gaji



Sebenarnya dengan melihat jumlah kekayaan SBY sekarang dan membandingkan dengan kemiskinan puluhan juta rakyat yang dipimpinnya, SBY bukan hanya pemimpin dari kaum kaya Indonesia sekelas Aburizal Bakrie, Chairul Tanjung, Arifin Panigoro, atau raja agrobisnis terbesar Asia Martua Sitorus (Thio Seng Hap), tetapi pemimpin dari kaum miskin Indonesia juga. SBY tak perlu minta kenaikan gaji lagi, bahkan sudah seharusnya melepaskan semua gaji yang didapatkannya hingga 2014 kepada masyarakat melalui kegiatan ekonomi produktif.



SBY bisa jadi presiden tanpa gaji dalam tiga tahun ke depan, nilainya sekitar Rp 2.258.640.000, tak terlalu besar jumlahnya, tetapi akan dapat mengembalikan keluhuran kepemimpinannya yang tercoreng oleh tercerabutnya legitimasi moral pemerintahan oleh tudingan para pemimpin lintas agama sebagai ”rezim kebohongan”, juga keluhan tentang gaji yang seolah menjadikan SBY duduk di kepresidenan untuk mencari keuntungan material.



Lihatlah mantan pastor Fernando Lugo yang diangkat sebagai Presiden Paraguay yang menolak menerima gaji sebagai presiden karena solidaritasnya ke rakyat miskin Paraguay yang jumlahnya hampir 35,6 persen populasi. Dengan kekayaan pribadi lebih dari Rp 10 miliar, tentu SBY bisa menginspirasikan kembali semua pejabat publik, termasuk 8.000 pejabat publik yang akan dinaikkan gajinya serta DPR yang sibuk membuat gedung baru senilai Rp 1,3 triliun, bahwa nilai tertinggi kepemimpinan adalah mengabdi tanpa pamrih kepada publik, bukan menumpuk kekayaan. Sangat ironis seorang presiden mengeluhkan gajinya di tengah lautan kemiskinan dan ketimpangan rakyatnya sendiri yang tak pernah mengeluh. Karakter yang mengabaikan penderitaan rakyat dan juga penderitaan manusia. Menurut Mahatma Gandhi, ”Mengabaikan seorang manusia berarti mengabaikan kekuasaan Yang Mahakuasa. Yang dirugikan bukan hanya makhluk itu, melainkan seluruh dunia.”.